Senin, 29 Januari 2018

Museum Pos Indonesia

Kritik Deskriptif
          Dari waktu ke waktu keberadaan manusia selalu meninggalkan sebuah peristiwa sebagai bukti keberadaanya, dalam bentuk fisik maupun non fisik. Bukti-bukti tersebut kemudian disimpan sebagai benda-benda bersejarah untuk mengenang peristiwa-peristiwa tersebut, dibutuhkan sebuah wadah untuk menyimpan benda-benda bersejarah, dan Museum merupakan wadah tesebut untuk dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena benda-benda bersejarah bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif pada masa depan, salah satunya Museum Pos Indonesia yang terdapat di Bandung, Jawa Barat.
          Museum Pos Indonesia, merupakan sebuah bangunan museum yang meyimpan kumpulan perangko-perangko yang berasal dari dalam ataupun luar negeri dari waktu ke waktu, peralatan Pos, dan rekam sejarah berdirinya kantor Pos di Indonesia.  Museum Pos Indonesia terletak di Jalan Cilaki No. 73 Bandung, Jawa Barat. Museum Pos Indonesia terletak di Jalan Cilaki No. 73 Bandung , Jawa Barat. Museum memiliki luas gedung 700 m², dan lahan tanah seluas ±  706 m. Museum bersejarah ini sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1933. Awalnya, bangunan ini bernama Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Hingga pada tahun 1980, Perum Pos dan Giro mengambil inisiatif membentuk  panitia guna memperbaiki dan merawat benda-benda koleksi museum dan pada tanggal 27 September 1983, Museum PTT akhirnya resmi berubah nama menjadi Museum Pos dan Giro. Bangunan yang didesain oleh dua arsitek, yaitu  J. Berger dan Leutdsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance
          Gaya arsitektur Renaissance adalah gaya arsitektur pada periode antara awal abad ke-15 sampai awal abad ke-17 di wilayah Eropa, ketika itu terjadi kelahiran kembali budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno yang disebut Renaissance. Ciri-ciri bangunan dengan gaya arsitektur Renaissance, yaitu penerapan konsep simetri yang kuat, pada denah, tampak dan ruang dalam bangunan, kolom-kolom besar (pada jaman Yunani dan Romawi)  digunakan kembali, namun hanya digunakan  sebagai hiasan dan bukan sebagai penopang struktur, dan warna bangunan yang cenderung monochrome atau satu warna.
         

          Nuansa gaya arsitektur Renaissance sudah terlihat dan terada pada bagian eksterior museum. Bagian yang terlihat pertama, yaitu dinding luar museum merupakan hasil plesteran yang kemudian dicat dengan warna mayoritas putih disekeliling gedung sehingga terkesan warna terlihat warna yang monochrome. Kemudian terdapat beberapa kolom non-struktural untuk memberikan kesan estetika pada bangunan. Selain itu juga bukaan Museum Pos Indonesia,  menggunakan bentukkan arch semi-sirkuler, atau melengkung.
          

Sedangkan pada bagian interior museum, warna dinding menggunakan warna putih pucat di bagian lorong hingga ruang pemaran perangko dan  peralatan pos. Penggulangan dekor yang simetris pada bagian dinding memberikan kesana nuansa gaya arsitektur Renaissance didalamnya. Penggunaan material marmer mendominasi pada bagian lantai dan beberapa bagian bawah dinding memberikan kesan elegan didalamnya di beberapa bagian museum. Selain itu ketinggian antara plafon dengan lantai yang tinggi memberikan kesan luas dan besar pada bagian dalam gedung.
          Dengan ini kita mengetahui bahwa Museum Pos Indonesia merupakan sebuah bangunan bersejarah arsitektural dengan gaya arsitektural, yaitu Renaissance yang terlihat disetiap sisi bangunan, baik dibagian dalam atau luar yang tetap berdiri hingga dan masih dapat digunakaan dengan baik sebagai museum. Tidak terjadinya perubahan yang banyak pada museum juga Kesan tempo dulu yang tetap terjaga pada bangunan. Diharapkan setiap pengunjung dapat memelihara dan menikmati setiap element yang terdapat pada museum sehingga setiap pengunjung dapat menggunakannya sebagai sebuah sarana pembelajaran dan pengetahuan.

Sumber: