Museum
Pos Indonesia
Kritik Deskriptif
Dari
waktu ke waktu keberadaan manusia selalu meninggalkan sebuah peristiwa sebagai bukti
keberadaanya, dalam bentuk fisik maupun non fisik. Bukti-bukti tersebut
kemudian disimpan sebagai benda-benda bersejarah untuk mengenang
peristiwa-peristiwa tersebut, dibutuhkan sebuah wadah untuk menyimpan benda-benda
bersejarah, dan Museum merupakan wadah tesebut untuk dengan cara melakukan
usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan
benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.
Karena benda-benda bersejarah bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis,
dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran
imajinatif pada masa depan, salah satunya Museum Pos Indonesia yang terdapat di
Bandung, Jawa Barat.
Museum
Pos Indonesia, merupakan sebuah bangunan museum yang meyimpan kumpulan
perangko-perangko yang berasal dari dalam ataupun luar negeri dari waktu ke
waktu, peralatan Pos, dan rekam sejarah berdirinya kantor Pos di Indonesia. Museum Pos Indonesia terletak di Jalan Cilaki
No. 73 Bandung, Jawa Barat. Museum Pos Indonesia terletak di Jalan Cilaki No.
73 Bandung , Jawa Barat. Museum memiliki luas gedung 700 m², dan lahan tanah
seluas ± 706 m. Museum bersejarah ini
sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1933. Awalnya,
bangunan ini bernama Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Hingga pada tahun 1980,
Perum Pos dan Giro mengambil inisiatif membentuk panitia guna memperbaiki dan merawat
benda-benda koleksi museum dan pada tanggal 27 September 1983, Museum PTT
akhirnya resmi berubah nama menjadi Museum Pos dan Giro. Bangunan yang didesain
oleh dua arsitek, yaitu J. Berger dan
Leutdsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance
Gaya arsitektur
Renaissance adalah gaya arsitektur pada periode antara awal abad ke-15 sampai
awal abad ke-17 di wilayah Eropa, ketika itu terjadi kelahiran kembali budaya
klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno yang disebut Renaissance.
Ciri-ciri
bangunan dengan gaya arsitektur Renaissance, yaitu penerapan konsep simetri
yang kuat, pada denah, tampak dan ruang dalam bangunan, kolom-kolom besar (pada
jaman Yunani dan Romawi) digunakan
kembali, namun hanya digunakan sebagai
hiasan dan bukan sebagai penopang struktur, dan warna bangunan yang cenderung
monochrome atau satu warna.
Nuansa gaya
arsitektur Renaissance sudah terlihat dan
terada pada bagian eksterior museum. Bagian yang terlihat pertama, yaitu
dinding luar museum merupakan hasil plesteran yang kemudian dicat dengan warna
mayoritas putih disekeliling gedung sehingga terkesan warna terlihat warna yang
monochrome. Kemudian terdapat beberapa kolom non-struktural untuk memberikan
kesan estetika pada bangunan. Selain itu juga bukaan Museum Pos Indonesia, menggunakan bentukkan arch semi-sirkuler, atau
melengkung.
Sedangkan pada
bagian interior museum, warna dinding menggunakan warna putih pucat di bagian
lorong hingga ruang pemaran perangko dan peralatan pos. Penggulangan dekor yang
simetris pada bagian dinding memberikan kesana nuansa gaya arsitektur Renaissance didalamnya. Penggunaan material
marmer mendominasi pada bagian lantai dan beberapa bagian bawah dinding
memberikan kesan elegan didalamnya di beberapa bagian museum. Selain itu ketinggian
antara plafon dengan lantai yang tinggi memberikan kesan luas dan besar pada
bagian dalam gedung.
Dengan ini kita mengetahui bahwa Museum
Pos Indonesia merupakan sebuah bangunan bersejarah arsitektural dengan gaya
arsitektural, yaitu Renaissance yang terlihat disetiap sisi bangunan, baik
dibagian dalam atau luar yang tetap berdiri hingga dan masih dapat digunakaan
dengan baik sebagai museum. Tidak terjadinya perubahan yang banyak pada museum
juga Kesan tempo dulu yang tetap terjaga pada bangunan. Diharapkan setiap
pengunjung dapat memelihara dan menikmati setiap element yang terdapat pada
museum sehingga setiap pengunjung dapat menggunakannya sebagai sebuah sarana
pembelajaran dan pengetahuan.
Sumber:

