Minggu, 29 Juli 2018

KONSERVASI ARSITEKTUR


Konservasi Arsitektur

Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (Inggris)Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Konservasi arsitektur adalah penyelamatan suatu obyek/bangunan sebagai bentuk apreasiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, pendidikan dan pembangunan wawasan intelektual bangsa antar generasi.

Dalam Burra Charter konsep konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Pengertian ini sebenarnya perlu diperluas lebih spesifik yaitu pemeliharaan morfologi (bentuk fisik) dan fungsinya. Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja.

v  Sasaran Konservasi
·      Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
·      Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini.
·      Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu, tercermin dalam obyek pelestarian.
·      Menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi Lingkup Kegiatan.

v  Kategori obyek konservasi :
·      Lingkungan Alami (Natural Area)
·      Kota dan Desa (Town and Village)
·      Garis Cakrawala dan Koridor pandang (Skylines and View Corridor)
·      Kawasan (Districts)
·      Wajah Jalan (Street-scapes)
·      Bangunan (Buildings)
·      Benda dan Penggalan (Object and Fragments)

v  Manfaat Konservasi :
·      Memperkaya pengalaman visual
·      Memberi suasana permanen yang menyegarkan
·      Memberi kemanan psikologis
·      Mewariskan arsitektur
·      Asset komersial dalam kegiatan wisata internasional


v  Peran Arsitek Dalam Konservasi :
·      Internal :
o   Meningkatkan kesadaran di kalangan arsitek untuk mencintai dan mau memelihara warisan budaya berupa kawasan dan bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi.
o   Meningkatkan kemampuan serta penguasaan teknis terhadap jenis-jenis tindakan pemugaran kawasan atau bangunan, terutama teknik adaptive reuse
o   Melakukan penelitian serta dokumentasi atas kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan.

·      Eksternal :
o   Memberi masukan kepada Pemda mengenai kawasan-kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan dari segi arsitektur.
o   Membantu Pemda dalam menyusun Rencana Tata Ruang untuk keperluan pengembangan kawasan yang dilindungi (Urban Design Guidelines)
o   Membantu Pemda dalam menentukan fungsi atau penggunaan baru bangunan-bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi yang fungsinya sudah tidak sesuai lagi (misalnya bekas pabrik atau gudang) serta mengusulkan bentuk konservasi arsitekturalnya.
o   Memberikan contoh-contoh keberhasilan proyek pemugaran yang dapat menumbuhkan keyakinan pengembang bahwa dengan mempertahankan identitas kawasan/bangunan bersejarah, pengembangan akan lebih memberikan daya tarik yang pada gilirannya akan lebih mendatangkan keuntungan finansial.



Sumber :















Revitalisasi Toko Buku G Kolff & Co
Sketsa Denah 

Bangunan lama toko buku G Kolff & Co memiliki gaya Art Deco yang sangat klasik. Bentuk tersebut tidak berubah sampai tahun 1948 dimana toko buku tersebut dinyatakan tutup dan bangunannya dibiarkan kosong dan lapuk dimakan waktu. Jika dilihat sesuai keadaan sekarang, bangunan tersebut sebagian besar sudah rubuh dan siap untuk diratakan.

Usia G Kolff & Co mencapai 100 tahun pada 1948. Selanjutnya, gedung itu dibiarkan tak terurus dan tak berfungsi. Kini, PT JOTRC selaku pelaksana proyek revitalisasi Kota Tua berniat mengembalikan kejayaan toko buku tersebut. Laman jakarta.go.id menyebutkan, G Kolff & Co dulu juga sering dipakai untuk pameran karya pelukis tersohor Hindia Belanda, seperti GP Adolfs dan R Strasser.
"Kenapa bangunan itu kami ratakan dengan tanah? Karena akan kami bangun lagi sebagai toko buku, perpustakaan, kafe, serta wadah bagi komunitas penulis dan sastrawan," ujar Yayat Sujatna, Manajer Proyek Revitalisasi Kota Tua dari PT JOTRC.

Pembongkaran gedung sudah melalui serangkaian kajian dan tes oleh Tim Sidang Pemugaran Kota Tua. Menurut rencana, akan dibangun gedung tiga-empat lantai. Gedung-gedung itu juga akan menyatu dengan gedung Van Vlueten & Cox, Onthel Warehouse, blok Dharma Niaga, dan Tjiptaniaga yang berada dalam satu kompleks. Revitalisasi gedung G Kolff & Co ini ditargetkan selesai akhir 2016. "Sekarang baru sampai pada tahapan pemilihan kontraktor. Desain gedung dirancang oleh arsitek Andramatin," kata Yayat.

Diharapkan, revitalisasi yang sedang dikerjakan PT JOTRC ini mampu mengembalikan jejak sejarah G Kolff & Co yang kini hilang tak berbekas.

SUMBER :




Toko Buku G Kolff & Co

Nama Bangunan Lama       : Toko Buku G Kolff & Co
Nama Bangunan Baru        : Tidak ada (kosong)
Alamat                               : Jl.Kali Besar Timur 3 no.17, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat
Tahun dibangun                 : 1848 – 1948
Fungsi Awal                       : Toko buku dan percetakan
Fungsi Sekarang                 : Tidak ada (kosong)
Kondisi bangunan              : Rusak

G Kolff & Co adalah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan dan toko buku yang dioperasikan pertama di Batavia. Scott Merrillees dalam buku Batavia in Nineteenth Century Photograph (2000) menyebutkan, Willem van Haren Noman mengoperasikan perusahaan itu dengan namanya sendiri pada 1848. Pada 3 Juli 1850, pengusaha dari Belanda bernama Gualtherus Johannes Cornelis Kolff bergabung dalam perusahaan itu. Nama toko kemudian berubah menjadi Van Haren Homan & Kolff. Sepuluh tahun kemudian, Noman memutuskan untuk kembali ke Belanda. Sejak 1858, nama perusahaan resmi berubah menjadi G Kolff & Co.
"G Kolff & Co mencetak buku, kartu pos, dan koran, yaitu Java Bode (1850), yang berafiliasi dengan koran di Semarang, De Locomotief, dan Het Soerabaiasche Handlesblad di Surabaya," ujar Merrillees melalui surat elektronik, Jumat (19/11).
Sejumlah buku terbitan G Kolff & Co bisa ditemukan di perpustakaan Museum Sejarah Jakarta. Beberapa buku yang dikeluarkan, seperti catatan perjalanan dan buku tentang undang-undang. Judul buku yang disimpan sebagai koleksi museum seperti notula Algemeene en Directievergaderingen (1913) dan Algemeene en Bestuurs Vergaderingen (1865). Buku yang dicetak di atas kertas berwarna coklat itu sampulnya sudah mulai rusak. Konten dari buku tersebut juga sulit diterjemahkan orang awam karena menggunakan bahasa Belanda kuno.
"Belum semua buku diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Khusus untuk buku terbitan G Kolff & Co kebanyakan berisi tentang catatan perjalanan dan undang-undang," kata Arpan, mantan petugas perpustakaan Museum Sejarah Jakarta, Jumat.
Di bukunya, Merrillees menyebutkan, percetakan itu juga menetaskan koran harian pertama di Batavia bernama Bataviaach Nieuwsblad yang pernah diterbitkan di Batavia selama lebih dari setengah abad.
SUMBER :


Selasa, 01 Mei 2018


KONSERVASI ARSITEKTUR


Konservasi Arsitektur

Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (Inggris)Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Konservasi arsitektur adalah penyelamatan suatu obyek/bangunan sebagai bentuk apreasiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, pendidikan dan pembangunan wawasan intelektual bangsa antar generasi.

Dalam Burra Charter konsep konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Pengertian ini sebenarnya perlu diperluas lebih spesifik yaitu pemeliharaan morfologi (bentuk fisik) dan fungsinya. Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja.

v  Sasaran Konservasi
·      Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
·      Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini.
·      Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu, tercermin dalam obyek pelestarian.
·      Menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi Lingkup Kegiatan.

v  Kategori obyek konservasi :
·      Lingkungan Alami (Natural Area)
·      Kota dan Desa (Town and Village)
·      Garis Cakrawala dan Koridor pandang (Skylines and View Corridor)
·      Kawasan (Districts)
·      Wajah Jalan (Street-scapes)
·      Bangunan (Buildings)
·      Benda dan Penggalan (Object and Fragments)

v  Manfaat Konservasi :
·      Memperkaya pengalaman visual
·      Memberi suasana permanen yang menyegarkan
·      Memberi kemanan psikologis
·      Mewariskan arsitektur
·      Asset komersial dalam kegiatan wisata internasional


v  Peran Arsitek Dalam Konservasi :
·      Internal :
o   Meningkatkan kesadaran di kalangan arsitek untuk mencintai dan mau memelihara warisan budaya berupa kawasan dan bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi.
o   Meningkatkan kemampuan serta penguasaan teknis terhadap jenis-jenis tindakan pemugaran kawasan atau bangunan, terutama teknik adaptive reuse
o   Melakukan penelitian serta dokumentasi atas kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan.

·      Eksternal :
o   Memberi masukan kepada Pemda mengenai kawasan-kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan dari segi arsitektur.
o   Membantu Pemda dalam menyusun Rencana Tata Ruang untuk keperluan pengembangan kawasan yang dilindungi (Urban Design Guidelines)
o   Membantu Pemda dalam menentukan fungsi atau penggunaan baru bangunan-bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi yang fungsinya sudah tidak sesuai lagi (misalnya bekas pabrik atau gudang) serta mengusulkan bentuk konservasi arsitekturalnya.
o   Memberikan contoh-contoh keberhasilan proyek pemugaran yang dapat menumbuhkan keyakinan pengembang bahwa dengan mempertahankan identitas kawasan/bangunan bersejarah, pengembangan akan lebih memberikan daya tarik yang pada gilirannya akan lebih mendatangkan keuntungan finansial.



Sumber :














Senin, 29 Januari 2018

Museum Pos Indonesia

Kritik Deskriptif
          Dari waktu ke waktu keberadaan manusia selalu meninggalkan sebuah peristiwa sebagai bukti keberadaanya, dalam bentuk fisik maupun non fisik. Bukti-bukti tersebut kemudian disimpan sebagai benda-benda bersejarah untuk mengenang peristiwa-peristiwa tersebut, dibutuhkan sebuah wadah untuk menyimpan benda-benda bersejarah, dan Museum merupakan wadah tesebut untuk dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena benda-benda bersejarah bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif pada masa depan, salah satunya Museum Pos Indonesia yang terdapat di Bandung, Jawa Barat.
          Museum Pos Indonesia, merupakan sebuah bangunan museum yang meyimpan kumpulan perangko-perangko yang berasal dari dalam ataupun luar negeri dari waktu ke waktu, peralatan Pos, dan rekam sejarah berdirinya kantor Pos di Indonesia.  Museum Pos Indonesia terletak di Jalan Cilaki No. 73 Bandung, Jawa Barat. Museum Pos Indonesia terletak di Jalan Cilaki No. 73 Bandung , Jawa Barat. Museum memiliki luas gedung 700 m², dan lahan tanah seluas ±  706 m. Museum bersejarah ini sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1933. Awalnya, bangunan ini bernama Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Hingga pada tahun 1980, Perum Pos dan Giro mengambil inisiatif membentuk  panitia guna memperbaiki dan merawat benda-benda koleksi museum dan pada tanggal 27 September 1983, Museum PTT akhirnya resmi berubah nama menjadi Museum Pos dan Giro. Bangunan yang didesain oleh dua arsitek, yaitu  J. Berger dan Leutdsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance
          Gaya arsitektur Renaissance adalah gaya arsitektur pada periode antara awal abad ke-15 sampai awal abad ke-17 di wilayah Eropa, ketika itu terjadi kelahiran kembali budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno yang disebut Renaissance. Ciri-ciri bangunan dengan gaya arsitektur Renaissance, yaitu penerapan konsep simetri yang kuat, pada denah, tampak dan ruang dalam bangunan, kolom-kolom besar (pada jaman Yunani dan Romawi)  digunakan kembali, namun hanya digunakan  sebagai hiasan dan bukan sebagai penopang struktur, dan warna bangunan yang cenderung monochrome atau satu warna.
         

          Nuansa gaya arsitektur Renaissance sudah terlihat dan terada pada bagian eksterior museum. Bagian yang terlihat pertama, yaitu dinding luar museum merupakan hasil plesteran yang kemudian dicat dengan warna mayoritas putih disekeliling gedung sehingga terkesan warna terlihat warna yang monochrome. Kemudian terdapat beberapa kolom non-struktural untuk memberikan kesan estetika pada bangunan. Selain itu juga bukaan Museum Pos Indonesia,  menggunakan bentukkan arch semi-sirkuler, atau melengkung.
          

Sedangkan pada bagian interior museum, warna dinding menggunakan warna putih pucat di bagian lorong hingga ruang pemaran perangko dan  peralatan pos. Penggulangan dekor yang simetris pada bagian dinding memberikan kesana nuansa gaya arsitektur Renaissance didalamnya. Penggunaan material marmer mendominasi pada bagian lantai dan beberapa bagian bawah dinding memberikan kesan elegan didalamnya di beberapa bagian museum. Selain itu ketinggian antara plafon dengan lantai yang tinggi memberikan kesan luas dan besar pada bagian dalam gedung.
          Dengan ini kita mengetahui bahwa Museum Pos Indonesia merupakan sebuah bangunan bersejarah arsitektural dengan gaya arsitektural, yaitu Renaissance yang terlihat disetiap sisi bangunan, baik dibagian dalam atau luar yang tetap berdiri hingga dan masih dapat digunakaan dengan baik sebagai museum. Tidak terjadinya perubahan yang banyak pada museum juga Kesan tempo dulu yang tetap terjaga pada bangunan. Diharapkan setiap pengunjung dapat memelihara dan menikmati setiap element yang terdapat pada museum sehingga setiap pengunjung dapat menggunakannya sebagai sebuah sarana pembelajaran dan pengetahuan.

Sumber: