Nama : Dany Bun
Kelas : 1TB03
NPM : 22314535
Suku Asmat
A. Sejarah Suku Asmat
Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen / motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.
B .Geografis dan Kependudukan
Suku Asmat
Wilayah yang mereka
tinggali sangat unik.Dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba
sungai.Wilayah yang ditinggali Suku Asmat ini telah menjadi Kabupaten sendiri
dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7 Kecamatan atau Distrik.Hampir setiap hari
hujan turun dengan curah 3000-4000 milimeter/tahun.Setiap hari juga pasang
surut laut masuk kewilayah ini,sehingga tidak mengherankan kalau permukaan
tanah sangat lembek dan berlumpur.Jalan hanya dibuat dari papan kayu yang
ditumpuk diatas tanah yang lembek.Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa
lewat jalan ini.Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak
terpeleset,terutama saat hujan.
Selain itu Suku asmat
juga tersebar dan mendiami wilayah disekitar pantai laut arafuru dan pegunungan
jayawijaya, dengan medan yang lumayan berat mengingat daerah yang ditempati
adalah hutan belantara, dalam kehidupan suku Asmat, batu yang biasa kita lihat
dijalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa
dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku
Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan
yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya.
Sekarang biasanya,
kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya
satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara
adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga
keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira
70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang
bersekolah.
C.Kebiasaan dan
Aktivitas Suku Asmat
Kebiasaan bertahan
hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di
wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak
dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah
berburu binatang hutan seperti, ular, kasuari, burung, babi hutan dll. mereka
juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni
mencari ikan dan udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata
telah berubah.
Sehari-hari orang
Asmat bekerja dilingkungan sekitarnya,terutama untuk mencari makan, dengan cara
berburu maupun berkebun, yang tentunya masih menggunakan metode yang cukup
tradisional dan sederhana. Makanan Pokok orang Asmat adalah sagu,hampir setiap
hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara
api.Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon
sagu,biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah,ditaburi sagu,dan dibakar
dalam bara api.Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun
sehari-harinya mereka hanya memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan.
Namun yang
memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih.Air tanah sulit didapat karena
wilayah mereka merupakan tanah berawa.Terpaksa menggunakan air hujan dan air
rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Satu hal yang patut
ditiru dari pola hidup penduduk asli suku asmat,mereka merasa dirinya adalah
bagian dari alam, oleh karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam
sekitarnya, bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi
gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala,
dan akar menggambarkan kaki mereka
Suku asmat memiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai tubuh.
D.Ada istiadat suku Asmat
Suku Asmat adalah
suku yang menganut Animisme, sampai dengan masuknya para Misionaris pembawa
ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agam nenek-moyang.
Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti
Protestan, Khatolik bahkan Islam. Seperti masyarakat pada umumnya, dalam
menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat pun, melalui berbagai
proses, yaitu :
- Kehamilan,
selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik
agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung alau ibu
mertua.
- Kelahiran,
tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan
secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan
Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya,
diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
- Pernikahan,
proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah berusia
17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah
pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita
dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan
kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga
perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa
pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah
diperbolehkan tinggal dalam satu atap.
- Kematian,
bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan
dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila
masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan
nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota
keluarga yang ditinggalkan.
E. Rumah Adat
Rumah Tradisional
Suku Asmat adalah Jeu dengan panjang sampai 25 meter.Sampai sekarang masih
dijumpai Rumah Tradisional ini jika kita berkunjung ke Asmat Pedalaman.Bahkan
masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal diatas pohon.
F. Sumber Alam dan
Potensi Alam
Selain
ikan,cucut,kepiting,udang,teripang,ikan penyu,cumi-cumi,dan hewan lainnya yang
melimpah ruah.Daerah Asmat juga memiliki sumber daya alam yang amat luar
biasa,seperti : rotan,kayu,gahar,kemiri,kulit masohi,kulit
lawang,damar,dan kemenyan.
G. Mitologi
Dalam hal kepercayaan
orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib
yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap
hari. Menururt keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di
bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke
hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia
mengalami banyak petualangan. Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk
Flaminggo misalnya, dewa itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu
sungau ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang
ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat
membunuh si buaya, tetapi ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus yang
mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy, desa Syuru sekarang. Untung ada seekor
burung Flamingo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali; kemudian ia membangun
rumah yew dan mengukir dua patug yang sangat indah serta membuat sebuah
genderang em, yang sangat kuat bunyinya. Setelah ia selesai, ia mulai menari
terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar dari gerakannya itu memberi
hidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama kemudian mulailah
patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka kemudian menjadi pasangan
manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang Asmat.
H. Upacara Adat
Ritual/ Upacara suku Asmat yaitu
- Ritual
Kematian
Orang Asmat tidak
mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal. Bagi mereka,
kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh, maka mereka
percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang kena padanya.
Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang biasa dan mereka
tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke
alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat
mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku Asmat percaya
bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua atau terlalu
muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau
tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk
korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka membaktikan diri,
direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu
yang berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat
memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada
leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh
mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga
yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua
yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis
sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk
mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak
berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang
dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit
dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui
bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang
ditinggalkan segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah
mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar
rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama)
dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada
saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara
menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan
mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi
(meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan
topi agar tidak menarik bagi orang lain.
Mayat orang yang
telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang telah
disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang
belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala
diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang
meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal
tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu
diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yangtingginya 5-8 meter.
Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan
perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan
seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan
masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa
barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa
menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan
pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya
dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun
jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.
- Ritual
Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap 5 tahun
sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses pembuatan
prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah pohon
dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu
telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan
untuk menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang
harus diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak
bunyi-bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang
kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat
sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang
kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akan
mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu. Sebelumnya diadakan
suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang berpengaruh dalam
masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan berjalan seimbang
dan lancar.
Perahu pun dicat
dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna merah berseling
putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah meninggal
atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu dihias dengan
daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih dahulu. Para
pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah
orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambil
mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah
masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung
menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung.
Kaum anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan
suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah
meninggal.
Dulu, pembuatan
perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan pengayauan
kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat musuh
dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap berperang.
Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan bahan makanan.
- Upacara
Bis
Upacara bis merupakan
salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat sebab berhubungan
dengan pengukiran patung leluhur (bis) apabila ada permintaan dalam suatu
keluarga. Dulu, upacara bis ini diadakan untuk memperingati anggota keluarga
yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh
anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk membuat patung
leleuhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu.
Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan selama
pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah
tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi tukar-menukar
istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat
hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, seperti
peperangan. Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara perang-perangan antara
wanita dan pria yang diadakan tiap sore.
Upacara
perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu ini,
wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti
hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka
upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila
hasil pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini
disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat
perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis
menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu
berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis.
Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung
bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada
saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam
telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal
itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga
yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis
ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.
- Upacara
pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang Asmat
mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah
bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini
dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah bujang
merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang bersifat
nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, namun apabila ada suatu
penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita dan
anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk
rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan
rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan
tari-tarian dan penabuhan tifa.
SUMBER:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar