Nama : Dany Bun
Kelas : 1TB03
NPM : 22314535
A. Sejarah Suku Asmat
|
|
B .Geografis dan Kependudukan
Suku Asmat
Wilayah yang mereka
tinggali sangat unik.Dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba
sungai.Wilayah yang ditinggali Suku Asmat ini telah menjadi Kabupaten sendiri
dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7 Kecamatan atau Distrik.Hampir setiap hari
hujan turun dengan curah 3000-4000 milimeter/tahun.Setiap hari juga pasang
surut laut masuk kewilayah ini,sehingga tidak mengherankan kalau permukaan
tanah sangat lembek dan berlumpur.Jalan hanya dibuat dari papan kayu yang
ditumpuk diatas tanah yang lembek.Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa
lewat jalan ini.Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak
terpeleset,terutama saat hujan.
Selain itu Suku asmat
juga tersebar dan mendiami wilayah disekitar pantai laut arafuru dan pegunungan
jayawijaya, dengan medan yang lumayan berat mengingat daerah yang ditempati
adalah hutan belantara, dalam kehidupan suku Asmat, batu yang biasa kita lihat
dijalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa
dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku
Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan
yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya.
Sekarang biasanya,
kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya
satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara
adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga
keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira
70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang
bersekolah.
C.Kebiasaan dan
Aktivitas Suku Asmat
Kebiasaan bertahan
hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di
wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak
dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah
berburu binatang hutan seperti, ular, kasuari, burung, babi hutan dll. mereka
juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni
mencari ikan dan udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata
telah berubah.
Sehari-hari orang
Asmat bekerja dilingkungan sekitarnya,terutama untuk mencari makan, dengan cara
berburu maupun berkebun, yang tentunya masih menggunakan metode yang cukup
tradisional dan sederhana. Makanan Pokok orang Asmat adalah sagu,hampir setiap
hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara
api.Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon
sagu,biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah,ditaburi sagu,dan dibakar
dalam bara api.Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun
sehari-harinya mereka hanya memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan.
Namun yang
memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih.Air tanah sulit didapat karena
wilayah mereka merupakan tanah berawa.Terpaksa menggunakan air hujan dan air
rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Satu hal yang patut
ditiru dari pola hidup penduduk asli suku asmat,mereka merasa dirinya adalah
bagian dari alam, oleh karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam
sekitarnya, bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi
gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala,
dan akar menggambarkan kaki mereka
|
|
D.Ada istiadat suku Asmat
Suku Asmat adalah suku yang menganut Animisme, sampai
dengan masuknya para Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal
agama lain selain agam nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini telah
menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.
Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan proses kehidupannya,
masyarakat Suku Asmat pun, melalui berbagai proses, yaitu :
- Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung alau ibu mertua.
- Kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
- Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.
- Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.
E. Rumah Adat
Rumah Tradisional Suku Asmat adalah Jeu dengan panjang
sampai 25 meter.Sampai sekarang masih dijumpai Rumah Tradisional ini jika kita
berkunjung ke Asmat Pedalaman.Bahkan masih ada juga di antara mereka yang
membangun rumah tinggal diatas pohon.
F. Sumber Alam dan
Potensi Alam
Selain ikan,cucut,kepiting,udang,teripang,ikan
penyu,cumi-cumi,dan hewan lainnya yang melimpah ruah.Daerah Asmat juga memiliki
sumber daya alam yang amat luar biasa,seperti :
rotan,kayu,gahar,kemiri,kulit masohi,kulit lawang,damar,dan kemenyan.
G. Mitologi
Dalam hal kepercayaan orang Asmat yakin bahwa mereka
adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut
di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Menururt keyakinan orang
Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di
pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang
kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan. Dalam
mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo misalnya, dewa itu namanya
Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungau ke arah laut, ia diserang oleh
seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Dalam
perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya, tetapi ia sendiri
luka parah. Ia terbawa arus yang mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy, desa
Syuru sekarang. Untung ada seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia
sembuh kembali; kemudian ia membangun rumah yew dan mengukir dua patug yang
sangat indah serta membuat sebuah genderang em, yang sangat kuat bunyinya.
Setelah ia selesai, ia mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan
sakti yang keluar dari gerakannya itu memberi hidup pada kedua patung yang
diukirnya. Tak lama kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari,
dan mereka kemudian menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang
orang Asmat.
H. Upacara Adat
Ritual/ Upacara suku Asmat yaitu
- Ritual Kematian
Orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat
orang yang telah meninggal. Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila
seseorang tidak mati dibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati
karena suatu sihir hitam yang kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian
mati pun dianggap hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka
percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian
orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali
pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan
jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka
mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur,
kepada siapa mereka membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu
spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai
pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian
mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan
kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di
tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga
terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal
akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan
kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena
mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya
untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam
pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka
ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut
memeluk sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur.
Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang
dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi
masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian.
Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai
berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya.
Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan
menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik
bagi orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di
atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan
sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas
pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal
petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh
orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung,
terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu
yangtingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu
lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian
dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan
terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang
Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal.
Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah
wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki
pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau
semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat
menemukan kuburannya.
- Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat
perahu-perahu baru.Dalam proses pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal
yang perlu diperhatikan. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan
diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siap untuk diangkut ke pembuatan
perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk menahan tali penarik dan tali
kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus diperhatikan saat mengerjakan
itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempa itu.
Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke
air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta
bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan
selebihnya menarik kayu itu. Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang
dipimpin oleh seorang tua yang berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah
agar perahu itu nantinya akan berjalan seimbang dan lancar.
Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam
dan di bagian luar berwarna merah berseling putih. Perahu juga diberi ukiran
yang berbentuk keluarga yang telah meninggal atau berbentuk burung dan binatang
lainnya.Setelah dicat, perahu dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan,
semua perahu diresmikan terlebih dahulu. Para pemilik perahu baru bersama
dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah orang yang paling berpengaruh di
kampung tempat diadakannya pesta sambil mendengarkan nyanyi -nyanyian dan
penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan
diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung menghias diri dengan cat berwarna
putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum anak-anak dan wanita
bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan suasana. Namun, ada juga
yang menangis mengenang saudaranya yang telah meninggal.
Dulu, pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka
persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu
-perahu ini dicoba menuju tempat musuh dengan maksud memanas -manasi mereka dan
memancing suasana musuh agar siap berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih
terarahkan untuk pengangkutan bahan makanan.
- Upacara Bis
Upacara bis merupakan salah satu kejadian penting di
dalam kehidupan suku Asmat sebab berhubungan dengan pengukiran patung leluhur
(bis) apabila ada permintaan dalam suatu keluarga. Dulu, upacara bis ini
diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang telah mati terbunuh, dan
kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak
yang membunuh.
Untuk membuat patung leleuhur atau saudara yang telah
meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di
dalam rumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum
wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan
patung bis, biasanya terjadi tukar-menukar istri yang disebut dengan papis.
Tindakan ini bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat
diperlukan pada saat tertentu, seperti peperangan. Pemilihan pasangan terjadi
pada waktu upacara perang-perangan antara wanita dan pria yang diadakan tiap
sore.
Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir
roh-roh jahat dan pada waktu ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang
dibencinya atau pernah menyakiti hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar
clan sudah tidak ada lagi, maka upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi
mala petaka di kampung atau apabila hasil pengumpulan bahan makanan tidak
mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini disebabkan roh-roh keluarga yang telah
meninggal yang belum diantar ketempat perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah
pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga
yang telah meninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan
paling utama berada di puncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan
hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung
yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan
mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan
agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang.
Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan
diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan
di daerah sagu hingga rusak.
- Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah
keluarga dan rumah bujang (je). Rumah bujang inilah yang amat penting bagi
orang-orang Asmat. Rumah bujang ini dinamakan sesuai nama marga (keluarga)
pemiliknya.
Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang
bersifat religius maupun yang bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat
tinggal di sana, namun apabila ada suatu penyerangan yang akan direncanakan
atau upacara-upacara tertentu, wanita dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang
Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh
keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang
dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan penabuhan tifa.
SUMBER:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar